Rencana besar untuk membangun sistem meritokrasi yang berbasis digitalisasi dalam rekrutmen dan pengangkatan Aparatur Sipil Negara (ASN) tampak menjanjikan di atas kertas. Pemerintah berupaya menegakkan prinsip objektivitas, transparansi, dan akuntabilitas dengan bantuan teknologi digital. Namun, jika dilihat dengan kacamata topi hitam dalam teori Six Thinking Hats dari Edward de Bono — yaitu sudut pandang kritis, hati-hati, dan pesimis — ada alasan kuat untuk meragukan keberhasilan rencana besar ini di lapangan.
Pertama, budaya titipan dan intervensi kekuasaan sudah terlalu mengakar dalam sistem birokrasi. Meski mekanisme rekrutmen telah beralih ke sistem daring dan berbasis nilai objektif, praktik “orang dalam” masih menemukan celah. Digitalisasi tidak serta merta menghapuskan praktik kecurangan; ia hanya memindahkannya ke ranah yang lebih halus dan sulit dilacak, seperti manipulasi data, pengaruh dalam tahap verifikasi administratif, atau pengaturan skor di balik layar.
Kedua, teknologi tidak netral dalam lingkungan yang korup. Ketika niat dan integritas pengelola sistem masih tercemar kepentingan pribadi dan politik, digitalisasi hanya menjadi bungkus modern dari praktik lama. Aplikasi dan sistem berbasis data bisa diretas, disesuaikan, atau bahkan didesain dengan celah yang memungkinkan “pesanan khusus”. Maka, digitalisasi yang seharusnya menjamin meritokrasi bisa justru menjadi alat legitimasi bagi ketidakadilan baru.
Ketiga, struktur kekuasaan dalam ASN masih hierarkis dan patronistik. Selama proses pengangkatan dan mutasi jabatan masih dipengaruhi oleh kepentingan pejabat tertentu, sulit membayangkan meritokrasi dapat tumbuh sehat. Pegawai berprestasi belum tentu mendapat posisi strategis; yang memiliki kedekatan dengan pengambil keputusan sering kali lebih diuntungkan. Dalam konteks ini, meritokrasi tampak seperti idealisme yang terperangkap dalam slogan birokrasi.
Keempat, digitalisasi tanpa perubahan budaya kerja hanya menciptakan ilusi kemajuan. Sistem bisa canggih, tetapi mentalitas yang menjalankan sistem tetap konvensional. Pegawai yang skeptis terhadap inovasi dan pejabat yang masih berpikir feodal membuat sistem digital rawan disabotase atau disalahgunakan. Tanpa reformasi mental dan moral, digitalisasi bukan solusi, melainkan kosmetik birokrasi.
Dengan mengenakan topi hitam, kita diingatkan untuk berhati-hati agar tidak terjebak dalam euforia transformasi digital yang semu. Pesimisme di sini bukan berarti menolak perubahan, tetapi menjadi alarm bahwa reformasi birokrasi berbasis meritokrasi dan digitalisasi akan gagal bila tidak diiringi pembersihan budaya titipan, perbaikan integritas, dan pembenahan struktur kekuasaan dalam tubuh ASN.
No comments:
Post a Comment